PUISI
Ciri-ciri Puisi Lama:
1. Anonim (pengarangnya tidak diketahui)
2. Terikat jumlah baris, rima, dan irama
3. Merupakan kesusastraan lisan
4. Gaya bahasanya statis (tetap) dan klise
5. Isinya fantastis dan istanasentris
Ciri-ciri Puisi Baru:
1. Pengarangnya diketahui
2. Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama
3. Berkembang secara lisan dan tertulis
4. Gaya bahasanya dinamis (berubah-ubah)
5. Isinya tentang kehidupan pada umumnya
1. Anonim (pengarangnya tidak diketahui)
2. Terikat jumlah baris, rima, dan irama
3. Merupakan kesusastraan lisan
4. Gaya bahasanya statis (tetap) dan klise
5. Isinya fantastis dan istanasentris
Ciri-ciri Puisi Baru:
1. Pengarangnya diketahui
2. Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama
3. Berkembang secara lisan dan tertulis
4. Gaya bahasanya dinamis (berubah-ubah)
5. Isinya tentang kehidupan pada umumnya
Contoh :
1. Puisi untuk ibu
Selembar puisi untuk ibu
Dentang nafasmu menyeruak hari hingga senja
Tak ada lelah menggores diwajah ayumu
Tak ada sesal kala semua harus kau lalui
Langkah itu terus berjalan untuk kami
Dua bidadari kecilmu...
Desah mimpimu berlari
mengejar bintang
Berharap kami menjadi mutiara terindahmu
Dalam semua peran yang kau mainkan di bumi
Ini peran terbaikmu
Dalam lelah kau rangkai kata bijak untuk kami
Mengurai senyum disetiap perjalanan kami
Mendera doa disetiap detik nafas kami
Ibu... kau berlian dihati kami
Relung hatimu begitu indah
Hingga kami tak sanggup menggapai dalamnya
Derai air matamu menguntai sebuah harap
Di setiap sholat malammu
Ibu...
Kami hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu
Membopong semua mimpimu dalam pundak kami
Ibu...
Jangan benci kami
jika kami membuatmu menangis.
Tak ada lelah menggores diwajah ayumu
Tak ada sesal kala semua harus kau lalui
Langkah itu terus berjalan untuk kami
Dua bidadari kecilmu...
Desah mimpimu berlari
mengejar bintang
Berharap kami menjadi mutiara terindahmu
Dalam semua peran yang kau mainkan di bumi
Ini peran terbaikmu
Dalam lelah kau rangkai kata bijak untuk kami
Mengurai senyum disetiap perjalanan kami
Mendera doa disetiap detik nafas kami
Ibu... kau berlian dihati kami
Relung hatimu begitu indah
Hingga kami tak sanggup menggapai dalamnya
Derai air matamu menguntai sebuah harap
Di setiap sholat malammu
Ibu...
Kami hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu
Membopong semua mimpimu dalam pundak kami
Ibu...
Jangan benci kami
jika kami membuatmu menangis.
2. Puisi untuk negeri
Rhefania
Lihatlah negeri menangis lagi….
Betapa perih hati menyaksikan semua ini…..
Lihatlah negeri berduka lagi….
Kemanakah perginya hati nurani……..
Coba kau dengar jerit tangis di sana…..
Sehelai nyawa seolah tak berharga
Tidakkah hati bisa merasakannya
Getirnya darah yang terurai….terjatuh..
Menambah sederet luka bagi bangsa……
Lalu kenapa……..
Selalu yang tak berdosa jadi korbannya
Oleh segerombol orang yang drjana
Yang tak pernah berfikir akibatnya……
Lihatlah…..Negeriku menangis…….
Lihatlah…..Negeri kita menjerit………
Jakarta, 17 Juli 2009
3. Puisi untuk seorang guru
Puisi untuk guru tercinta
Saat ku terhenyuk dalam kehausan
kau berikan embun-embun nan usir hausku
tak pernah kau biarkanku
terhenyuk dalam dunia nan semakin maju
Roda-roda nan berputar
namun kau tak pernah lelah
memberiku sekeping harapan
untuk lebih bangkit dari masa lalu
Guru....
apa yang harus kuucapkan untuk menggantikan jasamu
adakah hal yang harusku lakukan untukmu guru
bila kuharus memberi sekeping darah demi sekeping jasamu
akan kulakukan agar kau kembali seperti saat itu
Saat-saat berharga yang ku impikan
saat-saat dimana kau ada disekolah
yang mengisi hatiku saat ku terenyuk
mengisi pikiranku yang kosong
Hanya puisi ini pembuktianku yang pertama
hanya bait-bait ini yang kutulis untukmu
semoga kau bisa menerima puisi
meski tak seindah permata nan indah
kau berikan embun-embun nan usir hausku
tak pernah kau biarkanku
terhenyuk dalam dunia nan semakin maju
Roda-roda nan berputar
namun kau tak pernah lelah
memberiku sekeping harapan
untuk lebih bangkit dari masa lalu
Guru....
apa yang harus kuucapkan untuk menggantikan jasamu
adakah hal yang harusku lakukan untukmu guru
bila kuharus memberi sekeping darah demi sekeping jasamu
akan kulakukan agar kau kembali seperti saat itu
Saat-saat berharga yang ku impikan
saat-saat dimana kau ada disekolah
yang mengisi hatiku saat ku terenyuk
mengisi pikiranku yang kosong
Hanya puisi ini pembuktianku yang pertama
hanya bait-bait ini yang kutulis untukmu
semoga kau bisa menerima puisi
meski tak seindah permata nan indah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar